Tampilkan postingan dengan label Wisata n' Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata n' Fotografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Oktober 2016

Mengenal Candi Mendut & Candi Pawon

0 komentar
CANDI MENDUT
Candi Mendut merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan umat Budha pada zaman dinasti Syailendra. Terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Sekitar 38 km dari Yogyakarta dan 95 km dari Semarang. Candi Mendut berada tepat di sebelah selatan candi Borobudur dengan jarak sejauh 3 kilometer.
Menurut ahli arkeologi asal Belanda, Dr. JG de Casparis, Candi Mendut dibangun oleh raja Indra, raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M.  Hal ini didasarkan pada isi prasasti Karang Tengah. Isinya disebutkan bahwa Raja Indra telah membuat bangunan suci bernama venu vana mandira yang artinya adalah bangunan suci di tengah hutan bambu. Namun ada pula ilmuan lain yang berpendapat bahwa venu vana mandira itu adalah candi Ngawen yang letaknya 6 km arah timur dari Mendut.
Candi ini ditemukan kembali pertama kali pada tahun 1836. Hampir seluruh bangunan candi ditemukan kecuali bagian atapnya. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1897-1904 Candi Mendut dipugar dan direkonstruksi dengan hasil yang cukup memuaskan, namun sempat terhenti karena ketidaktersediaan dana. Hingga akhirnya dilanjutkan kembali pada tahun 1925 dengan hasil yang mendekati sempurna.
Candi Mendut memiliki dasar berbentuk persegi empat dengan pintu menghadap ke barat. Tinggi bangunan seluruhnya 26, 4 meter, dengan 48 stupa kecil yang terpasang, dan dinding-dindingnya dihiasi dengan 31 panel relief yang memuat berbagai cerita, ornamen kembang dan sulur-suluran yang indah.Cerita pada panel-panel relief yang terpahat di dinding candi ini dapat dilihat secara pradakina yaitu mengelilingi candi dari sisi kiri pintu. Begitu pun dengan relief jajaran dewa-dewa utamanya.

Salah satu relief di sisi kanan kaki candi
 Pada dinding timur terpahat relief Bodhisatwa yang menggambarkan Sosok Budha Awalokiteswara yang bertangan empat sedang berdiri di atas tempat seperti lingga. Pada dinding utara terpahat relief Dewi Tara yang bertangan delapan sedang duduk di atas padmasana dan diapait dua lelaki. Pada dinding selatan terpahat relief sosok Manjucri. Sedangkan pada dinding utara di dekat pintu masuk terpahat relief Sarwaniwaranawiskhambi sedang berdiri di bawah sebuah payung.
Di dalam ruangan candi terdapat tiga patung Budha yang besar. Yang di tengah dan terbesar adalah patung Budha Cakyamuni, duduk dengan kaki dalam sikap pralambha padasana dan tangan dalam sikap Dharmacakraprawartana mudra. Kedua bahasa tubuh itu menunjukkan sikap sedang mewejangkan ajaran. Di sebelah kanan patung Budha Cakyamuni adalah Awalokiteswara dengan tanda patung Amithaba di keningnya. Sementara di sebelah kiri patung Budha Cakyamuni adalah Wajrapani. Ketiga patung ini merupakan arca dewa utama di Candi Mendut yang menggambarkan tujuan didirikannya candi yakni untuk membebaskan diri dari karma badan (arca Cakyamuni), karma ucapan (arca Awalokiteswara) dan karma pikiran (arca Wajrapani).

Budha Cakyamuni
Saat masuk ke dalam ruangan candi ini, kita akan mencium aroma khas dupa, sesaji dan beberapa lilin yang berpijar di tiap sudut ruangan. Hal ini menunjukkan bahwa Candi Mendut memang masih menjadi tempat pemujaan pemeluk agama Budha sampai sekarang.
Masih di kawasan candi Mendut, kita dapat menemukan dua bidang tanah yang masing-masing tersusun bebatuan candi yang tidak utuh. Karena tidak lengkap batu-batu ini tidak dapat direkonstruksi menjadi candi. Sekarang batu-batu hanya diletakkan di atas bidang tanah yang dilindungi oleh pagar.
Bebatuan candi yang tidak utuh
 
Di kawasan Candi Mendut, tak jauh dari pintu masuk, kita dapat menemukan Galeri Budha. Galeri ini mengoleksi berbagai macam benda yang berhubungan dengan Budha, seperti patung, lukisan, kitab, VCD, baju, kain, bahkan pohon bodhi. 
Galeri Budha
Pohon bodhi adalah pohon bersejarah umat budha, karena saat duduk di bawah pohon inilah Pangeran Siddharta mendapatkan ilmu tertinggi dan menjadi Buddha Siddharta Gautama. Jika teman-teman berminat dengan pohon bodhi, teman-teman bisa membelinya disini.
Meski tak seramai di Borobudur, kita juga dapat menemukan kios oleh-oleh di sepanjang jalan menuju pintu masuk candi Mendut

Tiket masuk candi Mendut sangat terjangkau, yaitu Rp. 3.500,-/ orang. Asyiknya lagi, jika sudah membayar tiket masuk ke candi mendut ini kita bisa gratis masuk ke kawasan Candi Pawon. Cukup dengan menunjukkan tiket masuk Candi Mendut pada petugas loket candi Pawon.

CANDI PAWON


Candi Pawon terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Letaknya 1 km ke arah timur dari Borobudur. Sama seperti Candi mendut, Candi Pawon juga menghadap ke arah barat. Namun berbeda dengan bentuk candi Budha pada umumnya, Candi Pawon justru berbentuk ramping ke atas seperti candi Hindu.
Menurut Dr. JG De Casparis, nama Candi Pawon berasal dari kata pe-awu-an yang berarti tempat menyimpan abu sehingga Candi Pawon memiliki arti tempat penyimpanan abu jenazah raja Indra dari Dinasti Syailendra. Nama kampung tempat Candi Pawon berada adalah Brojonalan. Maka Candi Pawon juga sering disebut Candi Brjonalan. Brojonalan berasal dari kata Vajranala. Vajra berarti halilintar dan anala berarti api. Halilintar dan api merupakan lambang senjata Dewa Indra. Diperkirakan Candi Pawon merupakan area dewa Indra.
Sayangnya, sekarang tidak ditemukan satu arca pun di dalam tubuh candi Pawon. Padahal pada lantai terlihat bekas yang menunjukkan bahwa tadinya terdapat arca di tempat tersebut. Diperkirakan, semula terdapat Arca Bodhisatwa sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Indra yang dianggap telah mencapai tataran Bodhisatwa.
Candi Pawon yang bentuknya kecil memiliki ketinggian 1,5 meter dengan dasar berbentuk persegi empat, dan tepinya dibuat berliku-liku membentuk 20 sudut. Pada kaki candi tidak terdapat relief. Sementara badan candi sebelah luar terdapat motif pohon kalpataru yang tengah diapit oleh Kinara dan Kinari, sepasang burung berkepala manusia. Pada dinding bagian depan candi terdapat relief yang menggambarkan Dewa Kekayaan (Kuwera) dengan posisi berdiri.
Relief khas aliran Budha Mahayana
Candi Pawon disebut-sebut sebagai pintu gerbangnya Candi Borobudur karena letaknya dekat dengan Candi Borobudur. Area candi mungil ini sempit, berdekatan dengan rumah-rumah penduduk kampung Brojonalan. Mengunjungi kawasan candi ini kita akan merasakan sensasi kembali ke masa lampau, karena rumah-rumah di sekitar masih kental dengan ketradisionalannya. Disini kita juga dapat menemukan beberapa kios oleh-oleh yang menjual berbagai pernak-pernik candi.
Tiket masuk Candi Pawon sangat terjangkau, yaitu Rp. 3.500,-/orang, bahkan gratis jika kita menunjukkan tiket terusan masuk Candi Borobudur dan Candi Mendut.

Hubungan Candi Mendut - Pawon dengan Candi borobudur

Borobudur, Mendut dan Pawon merupakan tiga candi Budha yang posisinya berdekatan dan ketiganya terletak pada satu garis lurus. Sampai saat ini belum ada yang dapat mengetahui secara pasti apa makna di balik letak tiga candi yang berada pada satu garis lurus tersebut.Candi Mendut dan Candi Pawon memiliki kemiripan relief dengan Candi Borobudur. Penelitian mengungkapkan bahwa relief yang ada pada Candi Pawon adalah cikal bakal dari Candi Borobudur.Selain Candi Borobudur,

Candi Mendut dan Candi Pawon juga turut ambil peranan penting dalam pelaksanaan upacara hari besar Waisak. Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Siddarta Gautama, yang dikenal dengan Tri Suci Waisak. Tiga peristiwa penting itu antara lain hari kelahiran, hari pencerahan ketika Pangeran Siddharta menjadi budha (memperoleh pengetahuan tertinggi), dan hari wafatnya beliau.Prosesi ibadah Tri Suci Waisak dimulai dari pengambilan air suci dari Temanggung dan disimpan di dalam Candi Mendut pada hari pertama. Pada hari kedua, obor Waisak akan dinyalakan. Api yang diambil dari api abadi Mrapen, Grobogan ini disimpan dulu di Candi Mendut sampai tiba hari puncak perayaan Waisak. Di hari ke tiga alias hari puncak, air suci, api abadi dan simbol-simbol sakral lainnya diarak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Prosesi arak-arakan dari Candi mendut ke Candi Borobudur ini melewati Candi Pawon sebagai pintu gerbang Candi Borobudur. Terakhir, puncak perayaan Waisak pun berlangsung di sisi barat Candi Borobudur.


Sumber Pustaka :
- Wisata Candi di Jogja (2014) oleh Bellavia Ariestia Dofi, Spsi
-Candi Borobudur, Candi Pawon - Candi Mendut (2006) oleh Aiaz Raharja

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Selasa, 20 Oktober 2015

New Arrive! Couple Traveler edisi Jawa Tengah

0 komentar
Couple Traveler (BIP, 2015)
Harga Rp. 73.000,-
Buku traveling pertama saya sudah terbit lho, sobat pembaca. Selain merekam kisah perjalanan saya dan travelmate, buku ini juga memberikan informasi penting buat kalian yang berencana untuk liburan ke Jawa Tengah. Pokoknya smart traveler wajib deh baca buku ini!
Couple Traveler bisa didapat di berbagai toko buku se-nusantara. Tapi buat kalian yang ingin mendapatkannya khusus dari saya, sebaiknya buruan order sekarang juga karena persediaannya terbatas. Ssst, mumpung diskon 10% lho!

Satu lagi, bagi yang suka gratisan, jangan lupa follow instagram @cora_pandu_aslamic untuk ikutan kuis berhadian buku Couple Traveler secara cuma-cuma. Ditunggu yaaa....

#kuisbuku #kuisgratis #kuisberhadiah #coupletraveler #bukucoupletraveler #bukuBIP #bukutraveling


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Selasa, 10 Juni 2014

Suka Duka Puncak Gunung Prau

0 komentar
Yeahhh, puncak ke 4 berhasil kutaklukkan!
Yaelah, baru puncak ke-4 toh? Perasaan selama ini aku sudah sering mendaki deh... tapi yang baru nyampe puncak cuma 4. Pertama puncak Ungaran, kedua puncak Ceremai, ketiga puncak Merapi, dan yang terakhir kemarin puncak Prau. Kalo Sikunir termasuk gunung mungkin ini udah jadi puncak ke 5. Tapi sayang Sikunir cuma nama bukit... -_-
Naik truk, seperti sapi potong :D
Jadi ceritanya Sabtu kemarin aku berangkat dari Semarang bersama anak-anak jurusan statistik menuju Wonosobo. Tujuan kami adalah mendaki gunung Prau. Gunung yang berketinggian 2565 MDPL ini dapat kami taklukkan hanya dalam 2-3 jam saja, bro. Bayangkan, Ungaran yang tingginya 2050 MDPL saja memerlukan waktu 4-5 jam untuk sampai ke Puncak Botak. Jadi mendaki Prau tergolong cepat bukan? Ini dikarenakan Prau terletak di Kawasan Dieng yang memang merupakan dataran tinggi dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Jadi dalam 2 jam itu kita sudah dapat menikmati keindahan alam di puncak, bukit Teletubbies dan panorama menakjubkan seluruh kawasan Dieng.
Sembari istirahat, narsis dulu 
Senja mulai menguning, dan kami belum sampai puncak
Kami sampai ke Puncak sekitar jam 6 sore dimana hari sudah gelap dan suhu udara semakin rendah. Aku yang hanya mengenakan satu kaos tipis dan satu jaket yang bukan anti dingin rasanya tidak tahan berlama-lama di luar tenda. Begitu tenda siap, aku segera masuk dan merogoh sleeping bag dari dalam tas. Aku hanya keluar sebentar untuk masak mie bersama anak-anak, selebihnya aku masuk tenda lagi karena tidak tahan dingin. Sumpah itu dingin banget, rasanya lebih dingin daripada Pasar Bubrah di Merapi. Walau sudah menggunakan sleeping bag pun, aku masih menggelutuk kedinginan sampai pagi. Entahlah apa jadinya aku kalau tidak membawa sleeping bag, hanya bermodalkan kaos dan sebuah jaket tipis. Aku juga merasa tertolong dengan tenda kami yang penuh sesak. Bayangkan tenda buat 5-6 orang diisi oleh kami ber-8 orang. Kesempitan itu membuat suhu udara dalam tenda sedikit lebih tinggi. Hehe.
Matahari terbenam di Barat Dieng



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Rabu, 30 Oktober 2013

Tegal Oh Tegal

0 komentar
Di sela-sela ujian tengah semester yang melanda, aku justru pergi keluar dari kota Semarang. Bukan berarti aku bolos ya, kami berangkatnya jum'at sore kok. Ceritanya Pongky mengajakku pulang ke kampung halamannya di Tegal untuk menenangkan diri sejenak disana. Awalnya dia sempat ragu juga, antara malu dan kangen bertemu keluarga disana. Tapi akhirnya kami jadi pergi juga dengan nekat naik motor selama 4 jam.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Rabu, 16 Oktober 2013

Liburan Dadakan ke Pacitan

0 komentar
Jadi ceritanya dimulai dari hari Minggu kemarin. Aku yang habis mengerjakan tugas dan presentasi selama berjam-jam, diajak pergi oleh Pongky ke mall Paragon. Katanya Mbak Vian dan Mas Arga ngajak makan disana, sehabis mereka menghadiri pernikahan Mas Rama, salah satu anggota WAPEALA juga. Mereka berdua sudah duluan sampai, sementara aku dan Pongky menyusul kemudian. Terakhir datanglah Bang Jhon dan Bang Adit saat makanan kami sudah ludes dan hari sudah gelap. Dari obrolan kami yang ngalor ngidul, akhirnya tercetuslah rencana pergi jalan-jalan pada malam ini juga. Kebetulan hari Senin dan Selasa libur, maka kami yang memang gemar traveling dadakan ini segera menyusun rencana dan menentukan destinasi wisata. Setelah menemukan link sewa mobil dari kenalan, kami voting karena ada dua pilihan destinasi yang memungkinkan. Antara Solo-Tawangmangu dan Pacitan. Pada akhirnya terpilihlah Pacitan yang terkenal dengan goa dan pantainya yang cantik-cantik. Kota ini terletak di Jawa Timur dengan lama perjalanan dari Semarang 6 jam bila naik mobil sendiri. Awalnya aku khawatir yang menyetir akan kelelahan dengan perjalanan sejauh itu. Tapi Bang Adit meyakinkan kami bahwa ia sanggup menyetir jarak jauh, apalagi bisa digantikan oleh Mas Arga atau Mbak Vian.
Kami pulang dari Paragon jam 7 malam, lalu kembali ke Tembalang dan meyakinkan mbah-nya Mbak Vian bahwa kami akan menginap di kosanku dan nggak akan keluyuran kemana-mana. Haha, maaf ya mbah...
Akhirnya pada jam 10 malam mobil pinjaman pun datang, dan kami memulai perjalanan pada jam 11 malam. Menyusuri Ungaran, Salatiga, Solo, Wonogiri, dan... sampailah ke Kota Pacitan pada jam 5 pagi.
Masjid Raya Pacitan, kayaknya -_-
Jam 5 pagi Bang Adit membawa mobil kami sampai ke Masjid besar ini. Aku dan yang lainnya dibangunkan dulu baru tau bahwa kami sudah sampai. Sehabis mengumpulkan nyawa, kami semua langsung mandi. Pongky bahkan sempat sholat, dan Bang Jhon tidur pulas di depan masjid. Terakhir, kami sarapan di warung makan di dekat masjid pada jam 7 pagi sambil bertanya-tanya tentang obyek wisata disini. Pertama-tama kami mengunjungi pantai Teleng Ria yang hanya berjarak 3 km dari sini. Tadinya anak-anak berencana sewa papan surfing disini, tapi sungguh sayang kami terlalu pagi datang. Belum ada persewaan yang buka jam segini...
Pantai Teleng Ria
Rupanya karakteristik pantai ini hampir seperti Pantai Baron yang ada di Jogja. Berbentuk seperti teluk dengan pasir berwarna cokelat. Mereka yang cowok memutuskan untuk mandi saja disini. Cowok mah enak, tinggal copot baju luar terus langsung bisa nyebur. Nah kami yang cewek, apalagi yang pake kerudung?
Narsis~Alay~
Puas bermain di Pantai Teleng Ria, kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya yaitu Pantai Sogeh. Pantai Sogeh terletak di ujung Pacitan, yang menghabiskan waktu setengah jam perjalanan. Konon pantai ini sedang naik daun sebagai wisata favorit di Pacitan. Oh iya, kebetulan lebaran haji besok Pak SBY mau pulang kampung ke Pacitan makanya keamanan sedang diperketat disini, dan sepanjang perjalanan kami dipenuhi oleh bendera merah putih, partai demokrat dan umbul-umbul aneka warna. Rasanya seperti kami yang disambut, bukannya pak SBY -__-
Nah coba liat bendera-bendera di belakang kami itu...
Dari kiri : Vian, Cora, Pongky, Jhon, Arga, dan Adit.
Akhirnyaaa..... sampai juga kami ke Pantai Sogeh. Pantai ini memang bagus dan memanjakan mata. Coba lihat foto dibawah ini. Itu dia salah satu spot di pantai Sogeh. Seperti di Bali kan?
Anak pantai, uyeeee~
Masih di Pantai Sogeh.
 Pantai ini terlihat bersih dengan pasirnya yang putih dan halus. Namun sayang ombaknya yang besar membuat kami enggan mendekat ke bibir pantai. Yang berani berenang cuma Bang Jhon. Orang Jambi yang ngaku-ngaku dari Nepal ini memang memiliki kelakuan yang unik dan agak lebih nyeleneh dari yang lain. Bwahahaha...
Ada genangan air bening di tepi pantai Sogeh
Cukup sudah berleha-leha di pantai Sogeh. Hari sudah menunjukkan jam 11, saatnya beranjak menuju Goa Gong dan Pantai Klayar. Kedua obyek wisata ini berada di luar Kota Pacitan. Kira-kira satu jam lebih baru bisa sampai. 
Pada km ke 7 dari persimpangan kami sampai ke lokasi Goa Gong, tapi sayang seribu sayang, goa wisata ini sedang ditutup untuk umum karena sehabis disterilisasi. T.T Besok Pak SBY mau berpertualang kesini makanya keamanan dijaga ketat. Kami yang kecewa bukan kepalang, dengan terpaksa melanjutkan perjalanan ke Pantai Klayar saja dengan jarak 12 km lagi.
Menuju pantai Klayar butuh perjuangan yang ekstra, karena tempatnya pelosok dengan jalan kecil dan curam. Sedikit lebih mengerikan dibanding jalan menuju pantai-pantai Gunung Kidul Jogja. Belum lagi ditengah jalan kami melihat ular sebesar pergelangan tanganku melintasi jalan. Perasaan mendadak jadi tidak enak.
Mobil tentara mogok~
Perjalanan kami juga macet karena banyak mobil tentara yang berlawanan arah dengan kami, sementara jalan sangat sempit. Puncak kegundahan kami adalah ketika kami terjebak di antara mobil yang mogok dan mobil Baraccuda. Lumayan lama juga kami tidak bisa bergerak disana. Tapi setelah berhasil meloloskan diri dari situ kami bergegas melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya sampai juga ke lokasi pantai Klayar. Kami dibuat terkagum-kagum dengan pemandangannya dari atas bukit. 
the 2nd Miami beach, kalo kata mereka mah!
Para homo -_-"
Pemandangan paling menawan :')
We are the cool traveler \(^_^)/
Sebelum pulang
Tadinya kami berniat mengunjungi goa lainnya selain goa Gong, tapi hari sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Demi mencapai target sampai ke Semarang maksimal jam 12 malam, kami terpaksa harus menyudahi petualangan kami di Pacitan yang indah ini. Padahal Pacitan itu kota 1001 goa lho, agak menyedihkan bila kami tidak main ke goa sama sekali. :(
Sesekali kami mendengar suara takbir berkumandang di jalan. Ah, nggak nyangka besok udah lebaran aja. Jam setengah delapan malam kami singgah makan malam di kota Solo, tepatnya di pusat kuliner sebelah kanan alun-alun keraton. Lalu jam 9 melanjutkan perjalanan dan sampai ke Semarang jam 11-an.
Makan malam di Solo.
Emang harus gitu ya posenya, mister? -__-


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Selasa, 08 Oktober 2013

Pendakian Merapi (2964 MDPL)

2 komentar
Sabtu 5 Oktober kemarin, aku mendaki gunung api paling aktif sedunia. Merapi. Gunung yang berketinggian 2965 meter di atas permukaan laut tersebut terletak diantara Magelang, Jogja, Klaten, dan Boyolali.
Aku berangkat bersama Pongky, Mbak Rima, Mas Andre, Indri, Nadia, Bang Indra, Sabeth, Irawan, Faruq dan Stevie dengan total personil 11 orang. Hampir seluruh personil sudah berpengalaman mendaki gunung kecuali Bang Indra, pacarnya Nadia yang baru pertama kali mendaki.
Kami kesana naik motor dari Semarang  ke Desa Selo melewati Boyolali. Berdasarkan informasi, sekarang mendaki Merapi hanya bisa lewat jalur New Selo karena yang lain sudah rusak karena erupsi tahun 2010.
sesampainya di Desa Selo, kami makan dulu di dekat pasar sebelum pos pendakian New Selo.
Setelah makan, shalat, barulah kami menuju pos pendakian. Sudah diduga sebelumnya, pos akan ramai oleh para pendaki karena itu hari weekend. Yah, baguslah kalo begitu. Senang rasanya bertemu dengan para petualang dan pecinta alam dari berbagai penjuru, termasuk dari luar negeri. Setelah lama berkecimpung dengan intelek-intelek yang... ahh... agak membosankan.
Keramaian pos New Selo
Di pos pendakian, kami membayar retribusi sebesar 5000 rupiah per-orang. Usai melakukan registrasi dan packing dengan benar, kami pun memulai pendakian pada pukul 4 sore. Dimulai dengan perjalanan menuju Joglo, dimana terdapat tulisan NEW SELO sebesar tulisan di bukit HOLLYWOOD. Perjalanan ini membutuhkan waktu setidaknya 10 menit dari pos pendakian.
Pendakian terasa sangat mengasyikkan, apalagi saat hari mulai gelap. Sensasinya jadi lebih menantang. Pongky dan aku berjalan paling depan, kemudian disusul oleh Irawan, Sabeth dan Stevie. Ternyata di pos 1, kami mulai terpisah dengan rombongan yang berjalan di belakang (Indri, Nadi, Bang Indra, Mbak Rima, dan Mas Andre) mereka melewati jalur bawah yang lebih cepat sampai. Kami bertemu lagi dengan mereka di pos 2. Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam dan kami belum juga menemukan tempat yang pas untuk mendirikan tenda karena sudah penuh dengan pendaki lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp saja di Pasar Bubrah, pos terakhir sebelum puncak. Setelah melewati Watu Gajah, angin kencang sekali membuat kami menggigil kedinginan walaupun terus bergerak dan berkeringat. Aku rasanya sudah tidak kuat lagi ingin istirahat di tenda. Tapi tidak mungkin mendirikan tenda di tempat yang curam, tanpa pelindung dan penuh dengan kerikil bebatuan. Kami terus dan terus mendaki, mengalahkan angin kencang yang menerpa sehingga akhirnya sampailah kami di Pasar Bubrah pada jam 9 malam. Artinya kami membutuhkan waktu 5 jam untuk mendaki dari New Selo sampai ke Pasar Bubrah.
Di tempat itu pun, sudah banyak yang mendirikan tenda. Bahkan ada yang tidur tanpa mendirikan tenda, padahal dinginnya luar biasa ekstrim. Super sekali orang-orang itu! Kami segera membongkar carrier dan memasang tenda dengan badan gemetaran. Tadinya kami mempunyai 4 tenda, tapi ternyata tenda Pongky tidak bisa dipakai karena frame-nya kurang. Jadi kami tidur sempit-sempitan dengan 11 orang dibagi ke 3 tenda. Aku memilih tidur di tenda kecil saja dengan Mbak Rima dan Mas Andre. Sementara Pongky bersama Irawan dan Faruq. Sisanya, tidur di tenda yang lumayan besar.
Kami tidak langsung tidur, karena perut yang keroncongan sudah memelas minta diisi. Kami memasak telur dadar dan sarden, sementara nasi sudah dibeli di warung makan desa Selo tadi sore.
Cobaan tidak hanya sampai disitu bagiku, karena aku tidak membawa sleeping bag. Meski sudah memakai berlapis-lapis pakaian, kain atau segala penutup anggota badan yang bisa dipakai, badanku masih saja menggigil. Kedinginan membuatku tidak bisa tidur, ditambah bayang-bayang cerita seram yang kudengar tentang Pasar Bubrah. untung saja pada jam setengah 3 pagi Mbak Rima bangun dan membagi sleeping bagnya denganku. Barulah aku bisa tidur.
 Jam lima pagi, kami memulai kembali pendakian menuju puncak. Kapan lagi bisa melihat sunrise seindah ini? meski badan masih menggelutuk kedinginan, tapi itu tidak menjadi masalah lagi. :) 
Matahari terbit saat akan meninggalkan Pasar Bubrah menuju puncak.
Ini dia puncaknya.
Kawah Merapi nan menyeramkan
Dari Pasar Bubrah menuju puncak itu sungguh luar biasa track-nya. Pasir dan batu membuat kami harus jalan merayap. Dan itu sangat melelahkan. Kelihatannya sih dekat, tapi butuh 2 jam untuk mendakinya. Puncak dengan ketinggian 2964 MDPL ini bukanlah puncak Garuda. Puncak Garuda sudah hilang karena erupsi merapi tahun 2010.
Orang lagi ngambek.
Pemandangan di puncak sungguh indah. Kita dapat menyaksikan kawah, gunung tetangga yaitu Merbabu, dan hamparan peradaban manusia yang membentang di bawah sana. Ah, susah untuk dideskripsikan.
Tapi sungguh sayang, ada saja yang membuat mood turun disaat istimewa seperti ini. Dasar pacar! awas ya kalo kamu begitu lagi :(
Anak-anak IPAL (Sabeth, Stevie, Nadia dan Bang Indra)
Salam rimba~
Naaah, setelah puas di puncak. Pukul 8 kami turun lagi ke Pasar Bubrah. Kebalikan dari mendaki tadi, turun malah terasa sangat gampang. Karena medannya berpasir, kami bisa leluasa turun bagai naik skateboard. Sehingga waktu yang dibutuhkan tidak lebih dari setengah jam.
Sampai ke tenda, saatnya memasak sarapan! menu sarapan kami adalah mi goreng dan saraden (lagi). Lalu sehabis sarapan, packing... dan turun gunung. 
Bye bye Pasar Bubrah
Lihat, di pos 2 banyak tenda berjejer dengan warna yang atraktif :D
Ada satu yang kurang di Merapi. Edelweis tidak tumbuh subur disini. Memang masih dapat dijumpai pohonnya, tapi tidak ada satupun yang berbunga. Berbunga pun, bentuknya bantet dan hitam. Sayang sekali ya~
Edelweissss...
Pendakian kami pun berakhir pada jam 2 siang. Dengan waktu yang dibutuhkan 3-4 jam. Pongky, Mbak Rima dan Mas Andre sampai ke pos pendakian jam 1 siang. Sementara aku dan yang lainnya sampai jam 2 siang karena banyak istirahat. Kami sampai dengan selamat meski kaki sudah pengkor. 
Mission is completed!


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 27 September 2013

Ke Kampung Rawa dan Salatiga, Sendirian

2 komentar

Kemarin siang aku jalan-jalan sendiri. Rencananya sih ada yang mau nemenin, dan meyakinkan aku banget buat persiapan tracking ke Curug Lawe dan lanjut naik ke Gunung Ungaran. Tapi... seperti biasa dianya ngebatalin sebelah pihak. Nggak perlu dibahas panjang lebar disini, toh orangnya juga bakal tetap pasang muka innocent. Oke fine :')
Spin tersayang, teman bepergian saya~
Untuk menghibur diri dari kekecewaan itu, aku berniat berpertualangan sendirian ke Ungaran. Tapi setelah dipikir-pikir aku belum siap naik gunung sendirian dan alat-alat gunungnya juga nggak ada. Kemudian yang terbersit adalah aku akan pergi ke Solo dan mencari teman atau penginapan disana. Aku segera berganti pakaian dan menyiapkan daypack beserta isinya. Pas ngeliat isi dompet, tenyata uangku tinggal 30ribu rupiah. Ah, itu cuma cukup untuk beli bensin dan makan sekali doang. Dengan uang segitupun destinasiku terbatas, hanya sampai Salatiga. Oke, muter-muter Salatiga pun jadi, asal nggak menggalau di Tembalang. :) 
Aku memulai perjalanan jam setengah tiga sore, dimana jalan sedang padat merayap dipenuhi oleh mobil-mobil besar antarkota. Sebelum ke Salatiga aku mampir dulu ke Kampung Rawa yang terdapat di Ambarawa. Sempat muter-muter juga nggak tahu jalan menuju kesana. Tapi untunglah insting tukang ojekku membawaku sampai juga ke Kampung Rawa. Tiket masuknya murah, hanya 2000 rupiah/motor dan 4000 rupiah/mobil. 

Wahana untuk berlayar ke tengah-tengah Rawa Pening.
 Lokasi Kampung Rawa ini indah banget. Dikelilingi oleh gunung Merbabu, Telomoyo, Ungaran, dan gunung-gunung kecil lainnya. Belum lagi Rawa Pening yang luas menggenang di tengahnya. 
Kalau mau naik perahu mengelilingi Rawa Pening, satu perahu dikenakan 80 ribu rupiah dan maksimal delapan orang. Aku udah tanya-tanyain sih sama bapak yang mengelola perahu-perahu itu, eh... dia malah tanya-tanya hal personal tentang aku. Terus nanyain aku kenal nggak sama Rara anak peternakan UNDIP yang pernah penelitian disitu. Terakhir dia mengeluarkan hapenya, aku udah berprasangka buruk aja. Aku meninggalkan makananku yang belum habis, selain karena nggak mood makan, juga malas menanggapi dia nanya-nanya hal yang nggak penting selanjutnya dan minta nomor hapeku. Hahaha.
Soto daging, yang... aaasudahlaahh...
Pemandangan sekeliling yang menyejukkan~
Ada tempat pemancingan juga
Teman perjalanan
Setelah makan dan meninggalkan lesehan soto, aku beranjak menuju ayunan di dekat parkiran. Kemudian mengeluarkan novel yang baru kubeli yang berjudul Backpacker In Love. Novel karangan travel writer kondang ini yang membuat aku jadi menggebu-gebu untuk traveling dengan si Spin tersayang. Aku membaca novel itu sampai langit sudah berwarna jingga, menandakan bahwa matahari akan segera tenggelam. Ah, cepat juga hari berlalu.
Sunset~
Sambil mencuri-curi pandang ke arah sunset di langit bagian barat, aku mengendarai motorku lagi menuju ke Kota Salatiga. Aku berkeliling kota kecil itu sendirian seperti anak hilang sampai jam 7 malam. Well, I waste all of my money T.T


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO