Minggu, 07 Juni 2015

Hiding My Heart Away

0 komentar
This is how the story went
I met someone by accident
Blew me away, blew me away
And it was in the darkness of my days
When you took my sorrow, when you took my pain
And burried them away, burried them away

I wish I could lay down beside you
When the day is done
Wake up to your face against the morning sun
But like everything I've ever known
You dissapear one day
So I'll spend my whole life hiding my heart away

Dropped you off at the train station
Put a kiss on top of your head
Watch you wave
And watched you wave
Then I went on home to my skyscraper
A neon light of waiting papers
That I call home
I call that home

I wish I could lay down beside you
When the day is done
Wake up to your face against the morning sun
But like everything I've ever known
You dissapear one day
So I'll spend my whole life hiding my heart away

Woke up feeling heavy hearted
I'm going back to where I started
The morning rain, 
the morning rain
And thought I wish that you were here
On the same old road that brought me here
It's calling me home
It's calling me home

Aku harap aku tak harus mengalami hal yang sama dengan lagu ini.










Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 19 Desember 2014

Dia Yang Selalu Dingin dan Tenang

0 komentar

Kini jalur yang kami lewati kembali terjal. Namun debunya tidak sebanyak tadi. Justru yang banyak kini bebatuan dengan ukuran besar. Sesekali kami berhenti lalu bersandar di batu berukuran besar untuk menenggak sedikit air minum. Di antara istirahat kami juga melihat gemerlap lampu di perkampungan penduduk. Di sebelah barat kami melihat lampu yang lebih banyak di jarak yang lebih jauh. Mungkinkah itu kota Mataram?
“Ayo, udah dua menit.” Ujar Bagas sambil melihat jam tangan. Ia berdiri dengan sigap untuk melanjutkan perjalanan.
“Bentar lagi. Nyantai dong, kenapa sih kamu selalu terburu-buru?” protesku.
Ia diam saja dan kembali duduk di sampingku.
“Hei, Bagas!” teriak pendaki yang kepalanya baru nongol dari balik tanjakan. Rupanya itu Adji, Mas Wandas dan Mas Zaenal.
“Kalian di belakang rupanya?” tanya Bagas.
“Iya, kami nggak tergesa-gesa kok.” Jawab Mas Zaenal.
“Mau?’ Mas Wandas menawari kami sebatang cokelat untuk menambah tenaga. Aku menolak karena aku juga sudah membawa bekal cokelatku sendiri.
“Gimana, masih semangat kan? Santai aja, nggak usah terburu-buru.” Ujar Mas Wandas lagi padaku.
“Aku nggak mau ketinggalan sunrise di puncak, bro. Yuk, lanjut.” Ujar Bagas.
Kemudian ia kembali berjalan, meninggalkan kami berempat yang masih duduk di batu sebesar almari. Ia berjalan perlahan karena cahaya headlampnya sangat redup.
Tak lama kemudian aku juga melanjutkan perjalanan. Mereka bertiga ikut-ikutan melanjutkan perjalanan.
“Hati-hati, Cila.” Mas Wandas sok perhatian. Lalu ia mencoba memegang tanganku seakan-akan aku anak kecil yang baru belajar berjalan.
“Nggak usah dipegang, mas. Aku bisa jalan sendiri kok.” Tegasku.
“Eaaakk, Wandas mulai curi-curi kesempatan nih.” Adji tertawa-tawa.
“Kan mumpung si Bagas nggak liat, ya nggak dek Cila?” jawab Mas Wandas, kemudian ia berusaha merangkul pundakku.
Entah bercanda entah serius, tapi aku sangat risih diperlakukan seperti itu. Aku langsung menepis tangannya dan berlari menyusul Bagas yang sudah berjalan lebih dulu dari kami.
“Bagas!” aku berteriak memanggilnya. Tapi ia tidak menoleh. Ia terus melangkah maju seakan tak mendengar apa-apa.
“Bagas!” aku masih memanggilnya sambil berlari.
Saat aku hampir mendekatinya, ia menoleh ke belakang. “Kamu kenapa lari?” tanyanya polos.
“Aku manggil-manggil kamu nggak denger?” tanyaku balik dengan nafas ngos-ngosan. “Kamu tuh kenapa sih nggak bisa jalan pelan sedikit? Asal kamu tahu aja, tiap nggak ada kamu, Mas Wandas itu selalu cari-cari kesempatan. Tadi aja dia mau rangkul aku. makanya aku langsung lari-lari manggil kamu. Bisa nggak sih aku minta tolong kamu buat jagain aku, di gunung ini aja? Nggak bisa?”
Bagas terdiam sesaat dengan wajah tenangnya yang seperti biasa. Lalu ia menoleh ke belakang, dimana terdapat Mas Wandas dan yang lain sedang berjalan beriringan. “Masa sih dia begitu?” tanya Bagas tak percaya.
“Iya, dia itu genit asal kamu tahu.”
“Ya sudah, aku jalan di belakangmu aja.” Akhirnya Bagas mengalah. Ia mempersilahkanku berjalan lebih dahulu dan mengimbangi irama langkah kakiku yang pelan.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Kamis, 30 Oktober 2014

Toko Online 'Backpackeren Indonesia'

0 komentar
Hai semua. Kini aku sudah punya toko online sendiri lho, yang menyediakan berbagai perlengkapan outdoor. Buat teman-teman yang doyan naik gunung ataupun backpackeran, bisa kunjungi website kami di www.pongker.com
Kami menyediakan sepatu, jaket, tas, carrier, sleeping bag, jam tangan, kompor portable, nesting, dan masih banyak lagi dengan harga yang terjangkau. Sooo.... tunggu apa lagi? let's check it out!


Salam Lestari!



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Rabu, 22 Oktober 2014

Pak Porter, Profesimu Bertaruh Nyawa!

0 komentar
sumber: http://www.qimisummit.com/

Bukit demi bukit kami lewati dengan penuh perjuangan. Peluh membanjir hampir di setiap bagian tubuh, bercampur dengan material debu yang mengepul tiap kaki ini menapak.
“Plawangan masih jauh, pak?” aku bertanya pada seorang porter yang kebetulan sedang mendaki mengantar turis asing.
“Sebentar lagi juga sampai, dek.” Jawabnya. “Side olek mbe’?”
“Hah, apa, pak?” aku dan yang lain mengernyitkan dahi.
Si bapak porter tertawa. “Oh, saya kira dari Lombok saja. Maksud saya tadi, kamu darimana?”
“Dari Jawa, pak. Ada yang Semarang, Brebes, Jogja…”
“Oh, ya sudah mari kita melanjutkan perjalanan. Sedikit lagi sampai kok. Ini sudah bukit ke-4. Tinggal 3 bukit lagi.” Ajak bapak itu dengan bersemangat. Ia melanjutkan langkah kakinya yang lebar mengikuti langkah turis asing di depannya.

Aku memandang dengan takjub sekaligus heran. Apa dia tidak merasa lelah setiap hari naik turun Rinjani? Lihat, ia hanya memakai celana kain tipis, kaos oblong dan sandal jepit sebagai alas kaki. Jauh dari kata safety yang mutlak wajib bagi para pendaki. Ia hanya memikul dua keranjang yang berisi bahan makanan dan beberapa sleeping bag. Tiba-tiba aku jadi mengkhawatirkan mereka. Tapi aku juga mengkhawatirkan diri sendiri apakah aku bisa melanjutkan pendakian ini. Tungkai kakiku gemetaran menopang tubuh dan carrier yang kubawa. Harusnya aku bisa minta tolong Bagas untuk membawakan carrierku juga. Anyway, sudah sampai dimana itu bocah? Sudah berleha-leha di Plawangan bersama bule seksi tadi kah? Agh!


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Rabu, 08 Oktober 2014

I WANNA LIVE FOREVER WITH THIS FAMILY

0 komentar















Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Senin, 22 September 2014

Ciye, Ada Yang Cemburu, Ciyeee....

0 komentar
“Bro, jangan kedip, bro,” ujar Adji tiba-tiba.
“Wuihh…” Mas Wandas pun nimbrung. “Beautiful!”
Mata mereka semua tertuju pada satu orang pendaki bule yang baru saja sampai ke pos 3. Namun ia dan rombongannya tidak beristirahat dulu seperti kami. Mereka terus melangkahkan kaki menuju Tujuh Bukit Penyesalan. Bule itu adalah perempuan muda yang cantik dan seksi. Ia memakai tanktop dan celana pendek yang simple. Namun kesimpelan pakaiannya itu membuat auratnya terlihat oleh orang lain. Pantas saja semua laki-laki tidak berkedip melihatnya.
Tak terkecuali dengan Bagas. Sementara Bagas melihat pada rombongan bule itu, aku justru menatap tajam pada Bagas. Masih dibuat kesal dengan perdebatan kami tadi, sekarang dia menambah kadar kekesalanku lagi.
“Lihat, pantas saja kita selalu tertinggal sama negara lain.” Ujar Bagas setelah rombongan bule itu lenyap ditelan rimbunnya pepohonan. “Langkah kakinya saja dua kali lebih cepat dari langkah kaki kita. Kita jangan mau kalah sama mereka.”
Aku membuang muka darinya. Ciih, nggak tahu apa orang lagi kesal? Kini aku berpura-pura sibuk membereskan barang.
“Kura-kura bawa berkat. Berangkaaat!!” seru Bagas. Ia mengangkat carrier 80 liternya lalu mulai melangkah.
Para cowok tengil yang lain masih bersuit-suit dari kejauhan.
“Wah, Bagas mau ngejer si bule nih!” Adji memberi komentar. “Ayo, Gas, kejar!”
“Bagas, tungguin yang lain kenapa sih?” aku protes.
Tapi Bagas tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya menoleh pada kami dan berkata “AYO!” Mas Zaenal pun menyusul di belakangnya.
“Bagas??!!!” suaraku meninggi.
“Ada yang cemburu, ciyeee…” Mas Reza menyindirku, diiringi oleh tawa Anjar dan yang lainnya.
“Nggak kok, aku nggak cemburu. Nggak mungkin juga bule itu mau.” Aku membela diri.
“Eh, jangan salah. Bule itu lebih suka sama cowok Indonesia daripada jenis mereka sendiri. Lebih eksotis menurut mereka.” Mas Efri ikut-ikutan jadi kompor.
Ggrrrrhhhh….. ini cowok-cowok bukannya nyiram aku pake air, malah makin mengobarkan api kejengkelan.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

Jumat, 19 September 2014

Ada Yang Kena Ranjau!

0 komentar
Awal pendakian yang cukup menyenangkan. Kontur tanah di taman nasional ini sangat landai sehingga kami tidak merasa seperti sedang naik gunung. Hanya sekedar berwisata melihat pemandangan indah di pagi hari nan sejuk. Padang sabana membentang luas dibawah kaki gunung Rinjani, dan tak jauh dari jalur perjalanan kami ada banyak kawanan sapi yang sedang memamah rumput. Kalau belum diberi kesempatan jalan-jalan ke luar negeri, tempat ini bisa jadi alternatif karena pemandangannya tidak jauh beda dengan pemandangan di New Zealand.
"Oh, jadi ini penghuni kandang-kandang sapi yang kita lihat di bawah tadi?" Ujarku kala melihat kawanan sapi tersebut. Mendengar bunyi langkah kaki kami yang lumayan mengganggu, sapi-sapi itu menghentikan aktifitasnya. Lalu mereka pindah ke tempat yang lebih jauh dari kami. Sepertinya mereka takut.
“Yahh, baru mau difoto udah kabur!” ujar Bagas. Ia mengutak-atik kameranya lalu ditunjukkan padaku. “Lihat!”
Aku pun terbahak-bahak melihat foto hasil jepretannya. Dari ujung kiri sampai ujung kanan yang terlihat hanya pantat-pantat sapi berwarna putih mencling!
“Aaaaaaaaaaggghhhhh….!!!!!!!!!!!!” Teriak Mas Wandas dari kejauhan. Dia memang sudah berjalan lebih dulu dari kami bersama Mas Zaenal dan Adji.
Kami pun segera berlari menyusul karena panik mendengar teriakannya. Apakah dia digigit ular? Atau kalajengking dan sebagainya?
“Kenapa? Kenapa?” tanya kami berbarengan.
Adji tertawa tebahak-bahak. “Ada yang terinjak ranjau!’ soraknya sambil bergelinjangan.
Raut muka Mas Wandas berubah menjadi sangat menyedihkan. Ia membersihkan sepatunya dari segumpalan telepong. Bukan, telepong itu bukan alat untuk berkomunikasi jarak jauh. Telepong itu adalah bahasa Jawanya kotoran sapi.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO